Kehabisan Kata

http://instagram.com/bernia_putri/

"Sebenarnya lu cantik, tapi sayang..."

"Sayang kenapa emang?"

"Bukan apa apa kok sayang. Eh, tumben manggil sayang :D

"Anjay Disca :D"

"Kena lagi :D hahaha"

Oke setelah ini apa? Aku mulai kehabisan kata. Ia juga sama sekali tidak tertarik untuk bertanya atau membuka topik pembicaraan yang baru. Apa aku tanya kegiatannya sekarang ya? Ah tidak,  pasti dia akan menjawab sedang duduk saja.


Baca juga :


"Eh , gua mau tanya nih"

"Iya tanya aja"

"Lu suka main bekicot enggk?"

"Ha? Bekicot?  Kenapa emang?"

"Enggak apa apa sih,  akirnya lu nanya balik. Dari tadi gua muluk yang tanya,  kayak wawancara aja"
Haha,  menggunakan teknik bekicot memang efektif agar dia balik bertanya. Meski absurd banget.

"Kukira kenapa. Bentar ya mau off dulu"

"Ok"

Setelah itu dia mulai OFF. Kok jadi bingung gini ya, padahal dulu selalu ada yang di bicarakan tanpa bingung memikirkan topik pembicaraan. Tak apa lah sekarang udah mulai akrab lagi.

Sesekali aku ingin bercanda gurau secara langsung tapi, apalah dayaku yang tak berani menatapnya. Aku pernah bertemu dengannya itu pun, saat lebaran dan semua terasa canggung. Semua terasa canggung karena beberapa hal, yang pertama karena aku grogi dan yang kedua karena dia diam saja.

Beberapa saat kemudian ponselku bergetar, perasaan dia barusaja off masa langsung on lagi. Siapa ini,  ah adek kelas ku kirain si dia. Kukira dia langsung menghubungiku setelah off. Sangat jarang dia menghubungiku duluan, tapi aku yang lebih sering menghubunginya duluan. 

Aku lalu membuka pesan dari adek kelas,

"kak"

"iya?" 

Tumben adek kelas menghubungiku,  pasti ada sesuatu yang penting. Aku memang bukan tipikal orang yang populer di sekolah jadi, wajar saja kalau jarang ada adek kelas yang chatting denganku. Kebanyakan yang mencariku pasti sedang butuh bantuan atau ada hal yang penting lain. Beginilah resiko cowok kuper.

"Sibuk enggak kak?"

"Enggak, selalu ngangur nih"

Kalau seperti ini kemungkinan besar dia akan minta bantuan.

"Boleh curhat enggak kak?"

Loh? Curhat? Tumben ada yang mau curhat sama gue. Jangankan curhat, ngedengerin curhatan gue aja enggak ada yang mau. Lagian siapa juga yang mau curhat sama cowok pendiem.

"Boleh silahkan"

"Tentang si doi kak"

"Emang si doi kenapa?"

"Kemarin aku melihat dia tertawa bersama yang lain"

"Maksutnya? Ya biarin aja kan cuman ketawa"

"Kemarin aku liat dia bareng orang lain, akrab banget gitu. Nah katanya si doi itu cumah teman,enggak lebih. lah kalau cuman temen kenapa harus disembunyiin dariku coba?"

"Sabar dek jangan ke makan emosi dulu, emang si doi keluar sama cuman berduaan aja?"

"Iya kak, katanya cuman temen. Walaupun cuman temen, masak aku ngijinin cowokku pergi dengan yang lain berduaan aja. Lagian kalau ada yang penting bakalan tetepku ijinin, tapi kenapa harus di sembunyiin dariku"

"Mungkin si doi lagi khilaf dek, kan temennya banyak"

"Meski temennya banyak, setidaknya ngasih tau dulu :("

"Ya sekarang gini aja dek, kan kamu bukan istrinya juga, jadi kamu belum punya hak ke dia dan dia pun enggak punya hak ke kamu. Sebelum janur kuning melengkung, siapa saja bisa ngedeketin. Enggak usah di batesin juga dek si dia nya"

"Tapi ya tetep aja sakit kak. Aku sampek kehabisan kata ngomong sama dia. Mudah saja dia ngomong seperti itu, andai saja sayangnya seperti sayangku"

"Dek gini loh, kita itu enggak pernah tau orang lain beneran sayang sama kita atau hanya sekedar ucapan. Bisa saja dia bilang sayang cuman biar kitanya enggak sakit hati atau kecewa. Udahlah yang lalu biarlah berlalu. Yakin aja dan selalu berfikir positif dengan si doi"
" Mungkin kamu bakalan kepikiran terus, tapi anggap saja itu semua hanya angin dingin yang lewat "

Astaga, gue ngomong apa. Gue aja jomblo dan enggak laku laku, masak gue ngomong tentang ginian sih.

"Terus aku ke dia harus gimana? Terus dia beneran sayang atau cuman di ucap?"

"Ya biasa aja, lupain yang lalu. Kalau masalah sayang enggak, nanti juga ketahuan. Kalau kamu enggak ada bakalan di cari dan kalau dia pergi enggak usah di kejar. Boleh sih ngejar tapi, jangan terlalu berlebihan"
"Kalau kamu masih penasaran dia sayang enggak, bilang aja ke dia buat terus terang masalah perasaannya. Kalau enggak sayang suruh terus terang aja. Daripada kamunya penasaran"

"Bener juga kak. Makasih loh kak sarannya"

"Iya dek, jangan sedih karena satu cowok"

Gue enggak yakin ngasih nasehat, tapi sukurlah kalau dia bisa tenang dan ngerti. Bukan pilihan yang tepat untuk curhat masalah perasaan ke orang lain, karena orang lain belum tentu ngerti apa yang kita rasain. Kalau pingin ngluapin unek unek mending curhat dengan diri sendiri.

Oiya, si dia kok enggak ngehubungin lagi ya? Mungkin lagi sibuk. Kalau di pikir pikir aku memang menyukainya, tapi aku takut menjadi masalalunya. Kira kira, dia masih punya rasa denganku enggak ya?

Kesempatan Kedua


Derrttt...derrttt...derttt getaran dari HP yang mungkin pesan dari grup whatsapp keluarga, seperti biasa aku hanaya tiduran di kasur karena grafitasi kasur yang sangat kuat.

Aku melihat HPku untuk mematikan notifikasi grup whatsapp,  ternyata HP ini bergetar bukan karena pesan dari grup itu,  melainkan dari BBM si dia.

Sontak hal itu membuat kuterbangun dari tidur yang malas. Seakan BBM dari dia memberikan tenaga untuk melawan grafitasi pada kasur.

" Oi " pesan dari dia

Hahaha... Seperti biasa cuman dua kata, tetapi ia sangat jarang mengirim pesan duluan.
Terakir kali pesanku di abaikan karena mungkin membuat nya risih karena sering memperhatikannya.

" Ada apa? :D tumben chat duluan "

Aku membalas pesan darinya sambil memberikan emot senyum,  sebagai tanda pada si dia kalau aku sangat senang mendapat pesan darinya.

Sempat teringat kita begitu akrab dulu. Meski tidak pernah bertatap muka dan berbicara langsung, tetapi seakan pesan kita menandakan kalau kita bagitu erat.

Bahkan dia dulu sempat memberikan kode kalau dia suka dengan ku, entah aku yang salah mengartikan perkataan itu atau bagaimana tapi, aku merasa dia juga punya rasa yang sama. Tapi itu semua berubah ketika sesuatu menyerang pada dirinya.

Bukan negara api, aku pun juga tidak tau apa yang terjadi padanya, tapi itu mungkin hal yang membuatnya begitu down. Aku berusaha tetap ada buatnya tapi tidak ada reaksi. Dia seakan berubah begitu drasti, dari yang awalnya agak cuek denganku menjadi acuh tak acuh padaku
.
Aku paham kalau dia memang pada dasarnya cuek,  tapi dia sudah benar-benar berubah, bahkan dia terkadang sampai membuatku tersinggung dengan perkataannya. Beberapa jam kemudian dia membalas pesan dariku,  yah lumayan lama mungkin dia sedang sibuk padahal aku selalu berusaha membalas secepat mungkin jika itu darinya.

" Masih butuh nomor whatsapp gue gak? "

Sebenarnya dia membalas dengan begitu singkat, tapi kuperpanjang agar mudah di pahami.
 
" Butuh lah :D, emang mau ngasih?  "

Dulu aku pernah bertanya nomor whatsapp kepadanya. Kita berbincang bincang di BBM dan Facebook,  tapi HPku masih jadul jadi agak lelet kalau lewat BBM.
Selang beberapa menit, dia menjawab pesan dariku.

" Iya "

Tiga huruf itu membuatku terkejut. Mungkin dia hanya menggodaku saja, yah mungkin dia hanya bergurau karena kesepian dan ingin membuka pembicaraan lebih dahulu.

Dulu aku pernah meminta nomor whatsapp padanya,  tapi ia menolak nya dengan mentah mentah. Menurutnya hanya orang sepesial yang berhak mendapatkan nomore whatsapp nya. Dia menolak begitu keras ketika aku meminta nomore whatsappnya bahkan sampai mendiamkanku beberapa hari dan sekarang ia malah menawarkannya sendiri?  Ini hanya gurauan.

" Yaudah, mana? "

Kubalas pesan singkat darinya. Aku dulu juga pernah mencoba sama seperti dia, berusaha menghindarinya dan tak peduli dengan hidupnya,  hal itu malah menjadi sebuah drama di kepalaku. Kuakui aku sedikit berlebihan tentang dia, bahkan dia juga sering menganggapku lebay ataupun alay. Yaaah beginilah aku, aku berusa membuatmu nyaman pada setiap gurauanku, sama seperti dulu.

" 085 xxx xxx xxx "

Beberapa puluh menit kemudian,  dia membalas pesanku yang berisikan angka di dalam nya. Ini pasti cuman nomore biasa, bukan nomore whatsappnya. Kami dulu juga pernah berbincang bincang melalui sms,  bahkan setiap malam aku menelponnya sampai larut dan sekarang benar benar berubah. Jika ini benar benar nomore whatsapp darinya,  apa dia ingin.... Ah sudahlah mungkin cuma perasaanku yang berlebihan.

Langsungku salin nomore itu dan kutambahkan ke kontak whatsappku serta, langsungku cari namanya di kontakku, yah benar dugaanku namanya tidak ada meskiku cari berulang kali. Dia hanya bercanda padaku, yah dia bercanda.

":D "

Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Ia pun langsung membalas BBMku.

" Lanjut di Whatsapp "

Kemudia jari ini bergegas menuju whatsapp dan memperbarui isi kontak. Ah ternyata, aku yang salah dia benar benar memberikan nomore nya. Dengan wajah tersenyum aku pun langsung melihat ke arah foto whatsapp nya,  ia masih sama seperti dulu, senyumnya selalu menenangkanku.

 " Tes "

Kukirim pesan ke nomore itu,  berharap ini benar benar dia dan bukan pacarnya yang sedang memakai fotonya.

" Iya?  "

Ia lebih cepat membalas dari biasanya,  mungkin ia sedang kebetulan membuka whatsapp.

" ini lu kan?  "


" Iyos "

" Lagi apa dis?  "

Deg,  jantung ini berdetak semakin cepat ketika dia bertanya seperti itu.  Apa ini akan menjadi awal yang baru?  Apa dia sudah mau menganggapku lagi? Atau mungkin aku orang yang sepesial menurutnya?

TAMU ( Cerkak Bahasa Jawa )



TAMU
Yu Jinem          : “nderek bingah nggeh pak dene mbak arbaniah pun ajeng palakrami”. Ature Yu Jinem, makelar daging sapi lan bumbon ing pasar wage.
Pak Bagyo       : “matur nuwun mbak yu. Nyuwun pangestuke mawon mugi wilujeng samudya nipun “.
Yu Jinem          : “wah… jan panjenengan niki bejo sanget. Dereng dangu lulus SMA putrine pun emah-emah nderek bingah lan nderek memuji pak”.
Pak Bagyo       : ”sepindhan malih matur nuwun mbak yu. Tinimbang bocah namung ubyak ubyuk ngaler ngidul mboten cetha tujuwa nipun mila lajeng kulo nikah aken mawon kajenge sami ajar prihatos”.
Yu jinem            :”nggih .ngaten niku klebet pamanggih sae.lha kangge pahargyan niku ajeng nyembelih sapi piyambak nopo tumbas daginge mawon teng peken?’”.
Pak Bagyo         :”kulo kok kirang wawasan .gek artane nggih mung pas pasan.saene pripun?”.
Yu Jinem          :”manut pengalaman, langkung sae mundhut daging kemawon pak mboten ribet lan panjenengan langsung nampi daging ingkang sae. Nyembelih lembu piyambak niku sok malah ribet menawi tumbas daging rakpun ngertos barange. Reginepun nggih miring, niku yen panjenengan kersa mundhut wonten kios daging sapi Amanah kagungane juragan Tumirah”.
Pak Bagyo       :”emmm… yen tumbas ngoten niku nopo kedah bayar ngajeng, mbak yu ?”.
Yu Jinem          :”mboten. Cekap paring panjer satunggal yuto, sedoyo kebetahan dipun cekapi. Ajengo pesen setengah kwintal mesthi di sanggupi. Ampun kuwatos, menawi panjenengan pidhatos kersanipun kulo ingkang ngurus aken. Panjenengan mboten sisah report-repot tindak mriko”.
Pak Bagyo       :”nggih mbak yu. Malah keleresan kulo pasrah panjenengan mawon. Niki artos setunggal yuto kangge pangiket, ”pangandikane Pak Bagyo karo ngrogoh sak lan meneh ake dhuit marang tamune sing gadhes luwes kuwi.
Yu Jinem          :” lajeng tumbas bumbon-bumbon sisan napa mboten pak?”.
Pak Bagyo       :” kados ipun keluwarga nggih dereng rembagan bab bumbon.”
Yu Jinem          :” tinimbang panjenengan ribet, mangke kulo pados aken sekalihan. Mesisan nggen kulo mlampah. Pesen bumbon wonten kios ipun Bu Maimunah kulo jamin langkung mirah, tur barokah. Mboten sisah mbayar ngajeng, cekap arta setunggal yuta sedaya beres. Pripun pak?”.
Pak Bagyo       :” nggih sekalihan mawon menawi ngaten, bab bumbon napa sing ajeng di tumbas kulo aturi rembagan kalihan tiyang wingking. Niki panjenengan kula sukani arta setunggal yuta malih.”
Yu Jinem          :” matur nuwun pak. Mbenjing kemawon kula tak rembagan kalihan ingkang garwa.”
Pak Bagyo       :” sumonggo.”
Telung dina  sawise tekane Yu Jinem, Pak Bagyo ketekan maneh tamu kang pawakane dhuwur,rambut gondrong, raine klimis jenenge Surbakti.
Surbakti           :” ngaten pak. Yen panjenengan pesen serat ulem wonten panggenan kula, mangke pun
Kula pados aken nami-nami komplit sagelar akademikipun. Dados mboten badhe klentu SH kok diserat SE, MM malah dados M.Ber. Alamat tamu-tamu sawilayah mriki nggih wonten. Saha menawi kersa tenaga ingkang badhe nyebar ulem kala wau ugi sumadhiya. Pokok ipun panjenengan mboten sisah ribet , cekap lenggah sekeca, dhahar eco, serat ulem sampun dipun sebar tim kula dumugi alamat ingkang dipun tuju. Nuwun sewu, tamu undangan kinten-kinten pinten, pak?” pitakone Surbakti.

Pak Bagyo       :” mboten kathah mas Sur, kirang langkung tigang ewu.”

Surbakti           :” sedaya badhe kula layani. Setunggal ewu, tigang ewu, utawi ngantos gangsal ewu, kula sagah nyithak lan nyebaraken ulem kala wau. Terop, tenda, sound system, bolo pecah ugi sumadhiya. Para bebahu kula tansah nyambut damel kanthi professional, pak.”

Pak Bagyo       :” lha napa kedhah bayar ngajeng prabeyanipun sedya kebetahan kala wau?”

Surbakti           :”yen wonten langkung sae. Yen dereng wonten arta, nggih cekap dp rumiyen.”

Pak Bagyo       :” pinten?”

Surbakti           :”kaleh yuta cekap pak.”

Pak Bagyo       :” nggih, yen ngoten kula pasrah bongkokan dhumateng panjenengan.”

Surbakti           :” lha rak ngoten, niku langkung prayogi.”

Ora suwe sawise Surbakti pamitan, Pak Bagyo nampa maneh tamu kang tekane uga nggembol
Esem. Omongane renyah, raine padhang. Tekane tamu kang aran Joni iku jebul nawakake foto, video shooting penganten, dekorasi pawiwahan, sak pranata cara komplit. Kanthi fasilitas sing maremke ati, lan ora perlu mbayar anar ngarep, promosi iku di tampa Pak Bagyo kanthi suka renaning driya. Joni njaluk persekot dhisik, Pak Bagyo ora kabotan. Rasane pancen sarwa kepenak lan praktis.

            Sawise meh kabeh kebutuhan wis kecukupan, Pak Bagyo ketekan kanca kenthel tunggal guru sing jenenge Drajad. Tekane Drajad mung arep mertakake mungguh kabeh persiapan sing wis ditindakake kanggo mahargya dhaupe ponang pinanganten.

Drajad             :” Piye Mas? Apa persiapane wis beres?”

Pak Bagyo       :” Daging sapi, bumbon, ulem, terop, tendha, dekorasi, sound system, bala pecah, foto, video shooting, pranatacara kabeh wis ana sing nyanggemi. Kaya-kaya entuk pitulungan-Ne Gusti kabeh teka dhewe lan sarwa gampang. Rumangsaku kabeh rancangan lumaku rancag, tanpa rubeda. Tak ajap bias mlaku kanthi lancar.”

Drajad             :” Amiin, muga-muga kaya idham-idhaman panjenengan kuwi. Ning isih kurang siji, mas.”
Pak Bagyo       :” Apa?”
Drajad             :” Hiburan. Mosok ora nganggo hiburan, jeneh nyenyet.”
Pak Bagyp       :” Lha piye apike?”
Drajad             :” Yen manut pamrayogaku, kanggo ngluhurake panjenengan, becike kudu ana tanggapan, wayang, klenengan, apa campursari. Sumangga kersa.”
Pak Bagyo       :” Yen dhalang sing larang kuwi tekan pira?”
Drajad             :” Telung puluh lima yuta tekan patang puluh yuta entuk dhalang taraf nasional.”
Pak Bagyo       :” Kuwi ya Dhuwit kabeh?”
Drajad             :” Iya ta, Mas. Ning panjenengan kudu ngerti yen nanggap wayang iku klebu dana rasa. Iku mono klebu ngibadah, jalaran nindakake ngamal kebecikan mring sepadha-padha lan gedhe ganjarane, kaya pangandikane Raden Ngabehi Mujiman, Maha Guru Padhepokan Sabda Tunggal Tanpa Rapal kae.”
Pak Bagyo       :” Wis yen ngono bab golek dhalang iku dak pasrahake marang sliramu, butuh panjer opo ora?”
Drajad             :” Panjer sethithik wis mlaku mas.”
Pak Bagyo       :” Nyoh iki dak sangoni limang yuta kanggo panjer. Kanggo lakumu ya cukup satus ewu wae. Cukup ta?”
Drajad             :” Aja kuwatir Mas. Pokoke sampeyan weruh beres.”

Pak Bagyo wis nyicil ayem, kabeh kebutuhan kanggo pahargyan wis ana sing nyanggupi.
Nalika pirembugan karo bojone, Pak Bagyo nyritakake sekabehe. Nadyan ana rasa was sumelang, Bu Bagyo ora protes.


Tema                       :”
Paraga lan Watake :      -Pak Bagyo    : Manutan, penak di aruh aruhi
                                          -Yu Jinem   : Pinter ngaruh-ngaruhi
                                          -Surbakti     : Pinter ngaruh-ngaruhi
                                          -Drajad       : Pinter ngaruh-ngaruhi
Latar                         : Omah Pak Bagyo
Alur                          : Maju
Amanat                    : Dadi uwong iku aja sok gampang percaya marang wong sing durung kenal                            
                                     ben ora gampang di apusi



TUGAS KELOMPOK BAHASA JAWA

Nama : -Khusnia Alfi Hidayah (13)
             -Lovy Ladya Anggerlya (15)
Kelas : XII IPA 5












Sawise Padha Tuwa ( Cerkak Bahasa Jawa )

Sawise Padha Tuwa

BAGIAN 1

SURYADI          : “ Nuwun sewu, bu, menapa panjenengan menika mbak Rahayu rumiyen ?.”
LESTAR            I           : “ Mirip sanget nggih, Mas ?, menapa panjenengan rencangipun ?.”
SURYADI          : “ Inggih. Tunggal klas ngantos nem tahun, ing SMP lan SMA.”
LESTARI           : “ Kathah ingkang klentu, nginten bilih kula menika Mbak Rahayu. Kula
                              Menika adhikipun, nami kula Lestari.”
SURYADI          : “Oh. Alhamdulillah, bisa ketemu adhike Mbak Rahayu.Tepangaken, nami
                              Kula Suryadi. Dospundi kabare Mbak Rahayu, taksih sehat ta ?.”
LESTARI           : “ Taksih sehat lan taksih ketingal seger saliranipun. Rumiyin akrab kaliyan
                              Mbakyu, kula nggih, mas ?,Engko gek malah pacare ?.”
SURYADI          : “ Upama pacare ya genah pacar patah hati, nyatane ora sida dadi bojone.”
LESTARI           : “ Mas, saestu nggih, panjenengan sambangi mbakyu, nggo tambah
                              Kangen. Ben ora nglanjut kasepen.”
SURYADI          : “ Insaya Alloh, dhik Lestari.”


BAGIAN 2

RAHAYU          : “ Dhik, bakale awake dhewe pisah, lan ora ketemu maneh.”
SURYADI          : “ Kena apa, Mbak ?.”
RAHAYU          : “ Klas mu beda karo aku, Dhik. Aku mung ana PGSLP, dhuwur-dhuwur
Dadi guru SMP.Sedheng adhik bakal dadi insinyur, besok dadi dosen ing universitas, jumbuh karo cita-cita mu.”
SURYADI          : “ Mbak, tolehen sing wis padha dilakoni. Nem taun lawase awake dhewe
Amor saklas, wiwit mlebu SMP nganti lulus SMA, tansah rukun runtung-runtung kaya Sedulur. Sesuk sawisi kepeksa pisah sekolahe, dak jaluk ora pisah atine. Mbak, lakonana ana SGSLP kanthi tekun, lan besuk lakonana dadi guru kanthi manteb. Aku ya dak nglakoni ing
Ing Fakultas kanthi manteb. Mbesuk yen aku kelakon dadi dosen, kowe bakal dak goleki ngati ketemu. Mung aku ragu-ragu.
 “ Mbak gelem ngenteni aku apa ora.”
RAHAYU          :  “ Yen gelem?”takone.
SURYADI          :  “ Yen gelem ngenteni aku, besuk sawise bali ketemu, aku ora kepingin pisah maneh.”
RAHAYU          : “ Maksud mu apa, Dhik?”
SURYADI          : “ Maksudku ya....dadi sak omah, ora pisah-pisah maneh. Iku nek Mbak ora kabotan.”
RAHAYU          : “ Dhik, aku, janji, dak enteni nganti kowe teka ngggoleki aku.”
SURYADI          : “ Aku uga janji, Mbak, bakal dak goleki nganti ketemu, ing endi wae papanmu.”

BAGIAN 3

RAHAYU          : “ Adhiku wingi crita yen ketemu sliramu ana ngebisan.”
SURYADI          : “ Apa dhik Lestari ngerti lelakone awake dhewe?”
RAHAYU          : “ Pancen dak critani. Sedulurku ya mung siji thil iku. Nalika aku dadi guru anyaran ing Purbalingga, wong tuwaku seda,. Adhiku lagi lulus SD. Terus dak gawa mrana, dak sekolahe nganti dadi guru. Gandheng wong tuwa wis ora ana, aku arang-arang bali mrene. Sajake ya iku sing njalari awake dhewe ora bisa ketemu. Lha lelakonnmu kepriye, dhik?.”
SURYADI          : “ O alah, Mbak,nganti pepes atiku anggonku nggoleki sliramu,”tembungku mungkasi critaku.”Nganti dadi jaka tuwa. Sidane rabi wong liya, anak-anak siji thil. Bojoku wis mati sepuluh taun kepungkur.”
RAHAYU          : “ Aku ya nggoleki, Dhik. Takon-takon kancamu kuliah ing pertanian, jare Adhik mung setengah taun terus mundur lan padha ora ngerti kabarmu. Dak goleki nyang omahmu ing Jonggrangan kae, jebul wis dienggoni wong liya. Bisaku mug ngenteni mbak menawa adhik teko. Nganti ing taun wolung puluh aku kepeksa omah-omah sebab umurku wis meh telung puluh taun. Nanging kurang begja, Dhik. Lagi sepuluh taun olehku omah-omah, bojoku mati, ninggal anak siji. Adhiku ngoyak-oyak supaya aku omah-omah maneh, arep dientukake kancane guru sing wis dhudha. Ya nalika iku aku crita yen satemene ana priya sing dak enteni. Nanging nganti wis pensiun jebul tetep ora teka.”
SURYADI          : “ Nanging saiki aku teka, Mbak.”ucapku.
RAHAYU          : “ Wis kasep, Dhik.”
SURYADI          : “ Slirahmu isin ayu, Mbak.”
RAHAYU          : “ Wis tuwa, Dhik, ora perlu rayuan gombal.”
SURYADI          : “ Iki dudu rayuan, nanging kanyatan. Pasuryanmu isih katon ayu, salira isih sedhet.”
RAHAYU          : “ Nanging tetep wae wis kebacot tuwa, wis pensiun.”
SURYADI          : “ Dadi mbak wis ora seneng aku teka ing kene ?”
RAHAYU          : “ Aku bungah banget bisa ketemu maneh karo adhik. Nanging mandhega dadi sedulur wae, ora perlu dadi bojo. Wong wis tuwa arep ngapa.”
                        “ Dhuh Gusti. Puluhan taun dak enteni, bisa ketemu jebul wis kebacut tuwa. Oalah dhik, kena apa kudu mengkene lelakone awake dhewe.”
SURYADI          : “ Mbak, kanyatane awake dhewe isih diparingi urip. Tegese isih wajib nglakoni urip iku anut kodrate.”
RAHAYU          : “ Kodrate wong wis tuwa ngene iki mung kudu leren, Dhik. Wis lalu mangsa, wis lembek gregeting asmara.”
SURYADI          : ” Bojo iku fungsine ora mung dadi kekasih kanggo ngesokake rasa asmara, Mbak. Bojo iku uga kanco urip, kanggo ngancani yen ana sanggan kang kudu diangkat, yen ana reruwet kang kudu di udhari, yen ana mules ngelune kang kudu diusadani, yen ana kasedhihan kang kudu diwadulake. Bojo ku uga ahli waris kang kudu tanggungjawab yen ana perkara, genti-genti makili ing bab hak lan kewajiban ing tengahing bebrayan.”
RAHAYU          : “ Iku bener kabeh. Nanging aku wis kebacut pakewuh, dhik. Pakewuh karo tangga teparo, kanca-kanca, luwih-luwih karo anakku. Mundhak diunekake gaplek pringkilan, wis tuwek pethakilan.”
SURYADI          : “ Aku ngerti mbak. Ya wis, ayo manjing dadi dulur wae. Nanging aku wis
Netepi janji ku mbak, nggoleki kowe nganti ketemu.”



BAGIAN  4

SURYADI          : “ Ing kene iki, patang puluh taun kepungkur, aku ngiket janji karo mbak
Rahayu.”
RAHAYU          : “ Kok nglamun?” aloke karo mesem ngujiwat.”
SURYADI          : “ Wektu iki bisaku mung nglamun, Mbak.” Jawabku.
RAHAYU          : “ Kok ono kene olehe nglamun ?”
SURYADI          : “ Iki papan sing paling endah ing urip ke.”saurku.” Nanging uga paling ngenes ing uripku.”
RAHAYU          : “ Ngenese diilangi wae, wong bagus,”ucape tutung arum.” Aku njalok ngapura, gunemku wingi tetela kleru.”
SURYADI          : “ Mbak ora kleru, lan ora ana sing kudu diapura.”
RAHAYU          : “ Aku wis kleru kok, dhik,”saure.
SURYADI          : “ Sing nglerokakae sapa, mbak? Aku ora...”
RAHAYU          : “ Sing nglerokakae anakku,”saute munggel gunemku.
SURYADI          : “ Aku ora ngerti kersamu, Mbak.”
RAHAYU          : “ Sapungkurmu kae, dhik lestari crita marang anakku ngenani patemone awakke dhewe. Kontan wae anakku mulih. Aku disalahake anggonku nulak tekamu. Ngene tembunge : “ Ibu ki piye? Patang puluh taun ngantu antu ngenteni, barang teko tenankok ditulak. Bene ibu wis tuwa, nanging ibu isih butuh kanca lan kulawarga. Aku uga isih kepingin duwe bapak lan duwe sedulur, nadyan mun sedulur sambungan. Aku janji bu, bakal dak rengkuh kaya bapak lan sedulur kadhung.”
SURYADI          : “ Dadi...kepriye awake dhewe iki, mbak?”takonku.
RAHAYU          : “ Lha karepmu piye, kok malah takon aku.”
SURYADI          : “ Mbak, ing papan iki patang puluh taun kepungkur, aku kandha :” Besuk sawise bali ketemu, kepingin tunggal saomah ora pisah-pisah maneh. Saiki pilihen : ana omah ku  apa ana omah mu.”
RAHAYU          : “ Ing omahku wae. Dhik, kowe bali ketemu aku sawise tuwa kaya ngene. Ya adhik isi kersa, sak anane iki gawanen mulih kabeh. Saupama iki sega liwet, kedhukana nganti resik saintipe. Yen iki kolah, cidhukana nganti asat.”
SURYADI          : “ Mbak, kowe sumur sing ora tau asat, nadyan dak timba saben dina dak cidhuki saben bengi.”


Kelompok :  1. ANIS WIGATIANA  ( 05 )
                                  2. EFFA TWINTASARI  ( 10 )